Puncak Mahameru

Masjid Raya Baiturrahman

Puncak Semeru yang biasa didaki adalah Puncak “Mahameru”. Dari puncak ini akan terlihat kawah yang disebut “Jonggring Saloko” dan yang uniknya setiap 10-15 menit sekali menyemburkan batuan vulkanis dengan didahului asap yang membumbung tinggi. Di puncak Mahameru (Semeru) pendaki disarankan untuk tidak menuju kawah Jonggring Saloko, juga dilarang mendaki dari sisi sebelah selatan, karena adanya gas beracun dan aliran lahar. Suhu dipuncak Mahameru berkisar 4 – 10 derajad Celcius, pada puncak musim kemarau minus 0 derajad Celcius, dan dijumpai kristal-kristal es. Di puncak inilah para
pendaki menyematkan dirinya sebagai penakluk puncak tertinggi di Jawa 3.676 mdpl.

(Sumber : Taman NasionalGunung Semeru)

Advertisements

Kalimati

Masjid Raya Baiturrahman

Setelah tanjakan cinta, terbentang sebuah padang rumput luas yang dinamakan oro-oro ombo, Oro-oro ombo dikelilingi bukit dan gunung dengan pemandangan yang sangat indah, padang rumput luas dengan lereng yang ditumbuhi pohon pinus. Padang rumput ini mirip sebuah mangkuk dengan hamparan rumput yang berwarna kekuningan. Dari balik Gunung. Kepolo tampak puncak Semeru menyemburkan asap menunjukkan kegagahannya. Nama kalimati berasal dari nama sebuah sungai/kali yang tidak berair. Aliran air hanya terjadi apabila musim hujan, aliran menyatu dengan aliran lahar Semeru. Daerah ini merupakan padang rumput dengan tumbuhan semak dan hamparan edelweis seluas 20 ha, dikelililngi kelompok hutan alam dan bukit-bukit rendah. Kalimati merupakan tempat berkemah para pendaki sebelum melanjutkan pendakian. Disini terdapat fasilitas pondok pendaki, namun untuk kebutuhan air dapat diperoleh dari Sumbermani.

(Sumber : Taman NasionalGunung Semeru)

Ranu Kumbolo

Masjid Raya Baiturrahman

Adalah sebuah danau gunung di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Letaknya di Pegunungan Tengger, di kaki Gunung Semeru. Luasnya 15 hektare. Ranu Kumbolo merupakan sebuah danau air tawar. Dengan debit air yang tidak pernah kurang, Ada keunikan tersendiri dibalik indahnya ranu kumbolo, yaitu ketika matahari mulai terbit di antara dua buah bukit hijau yang muncul perlahan dan membuat perhatian mata kita tidak bisa menolak untuk menikmatinya. Belum lagi suasana danau ketika kabut mulai turun di waktu sore hari dipadu dengan air danau sungguh pemandangan yang tak bisa terucapkan. Disaat malam tiba kita akan disuguhkan gugusan bintang dari galaksi Bima Sakti yang belum tentu bisa kita lihat pada waktu kita berada di kota-kota besar karena silaunya cahaya lampu kota yang begitu terang. Di sebelahnya terdapat sebuah bukit yang diberi nama “bukit Cinta” yang konon jika kita mendaki ke bukit ini dengan membayangkan orang yang kita cintai dengan tanpa menoleh kebelakang maka kita akan bahagia bersamanya. Namun semakin tinggi kita mendaki maka semakin hebat pula godaannya. Karena semakin tinggi, maka pemandangan Ranu Kumbolo dari bukit akan terlihat semakin indah.

(Sumber : Taman NasionalGunung Semeru)

Ranu Pani

Masjid Raya Baiturrahman

Semula luas Ranu Pani berkisar satu hektare lebih, namun kini diperkirakan tinggal 0,75 hektare akibat laju sedimentasi yang cepat. Penduduk desa Ranu Pani berjumlah sekitar 2.000 orang. Ranu Pani adalah salah satu titik berangkat untuk pendaki yang akan melakukan pendakian ke Gunung Semeru yang memiliki ketinggian 3.676 mdpl. Desa Ranu pani merupakan desa terakhir sebelum Gunung Semeru. Desa ini dihuni oleh warga suku Tengger dan berada di ketinggian 2.100 mdpl. Setiap tahun, warga di desa selalu menggelar bersih desa dan ritual unan-unan yang dipimpin dukun adat. Penduduk desa Ranu Pani sebagai Suku Tengger, merupakan keturunan asli masyarakat Jawa yang hidup di era Kerajaan Majapahit. Pendaki yang akan menuju Gunung Semeru akan melewati dua danau di sekitar Ranu Pani, yaitu Ranu Regulo yang berada di desa Ranu Pani, dan Ranu Kumbolo yang terletak di lereng atas sekitar 5 jam berjalan kaki dari Ranu Pani.

(Sumber : Wikipedia)

Pantai Banyu Tibo

Masjid Raya Baiturrahman

Dibandingkan dengan pantai-pantai lain di Pacitan (dan juga di Indonesia secara umum), Banyu Tibo punya suasana dan pemandangan yang berbeda. Di pantai ini terdapat sebuah fenomenan alam yang cukup unik dan jarang yakni sebuah air terjun yang jatuh langsung ke pantai. Fenomena dan pemandangan ini menjadi daya tarik utama Pantai Banyu Tibo, air terjun yang membuat pantai ini terlihat berbeda. Air yang jatuh dari tebing tersebut merupakan air tawar yang berasal dari sumber air bawah tanah di pegunungan karst yang berada di sekitar pantai. Area pantai Banyu Tibo sendiri sebenarnya tidak terlalu luas. Bahkan jika air laut sedang pasang kita hanya bisa menikmati pemandangan pantai dari atas tebing. Namun, saat air sedang surut, bermain di area pantai yang dilengkapi dengan sebuah air terjun yang jatuh langsung ke area bibir pantai adalah sebuah pengalaman yang teramat seru. Di panai ini juga memiliki lokasi selancar yang banyak digemari oleh para wisatawan.

(Sumber : Pacitan Tourism)

Pantai Nyoroboyo

Masjid Raya Baiturrahman

Pantai Ngiroboyo sudah mulai dikembangkan dengan pembangunan yang berkonsep menyatu dengan alam. Jika kebanyakan pantai salah satu daya tariknya adalah pasirnya yang putih, Pantai Ngiroboyo justru kebalikannya. Salah satu daya tariknya adalah pasir hitamnya yang mendominasi sebagian besar pantai. Ketika terpapar sinar matahari, pasir hitam tersebut nampak berkilauan, apalagi setelah tersapu ombak laut selatan. Tidak berlebihan jika pantai ini diibaratkan bagai mutiara hitam, tidak begitu mencolok, tetapi menyimpan pesona yang luar biasa. Pantai Ngiroboyo sendiri lokasinya sebenarnya tidak terlalu jauh dari Pantai Klayar. Di Pantai Ngiroboyo kita bisa bermain selancar, tetapi tidak disarankan untuk berenang di pantai karena ombaknya besar. Kita bisa juga mencoba water tubing di muara sungai. Sudah ada penyewaan ban di area pantai bagi yang ingin bermain di sungai. Bagi yang tidak ingin berbasah-basah, bisa bersantai menikmati suasana pantai di gazebo sederhana yang banyak dibangun di tepi pantai.

(Sumber : Pacitan Tourism)

Pantai Srau

Masjid Raya Baiturrahman

Memiliki 3 lokasi pantai. Di bagian timur untuk melihat matahari terbit, di bagian barat untuk melihat matahari terbenam, dan yang bagian tengah memiliki pemandangan luas ke laut lepas, ditambah batu-batu besar yg berdiri gagah di tengah laut. Perjalanan menuju pantai ini agak sulit untuk dijangkau, karena jarang dilewati oleh angkutan umum. Disepanjang perjalanan akan melewati pinggirang hutan yang hijau dan rindang, jauh dari pemukiman penduduk. Pantai Srau merupakan pantai yang jarang dikunjungi dan terbilang masih perawan. Oleh karena itu, keasriannya masih benar-benar alami. Terdapat tebing-tebing yang tinggi dan banyak tanaman liar khas pantai yang masih terlihat lebat dan alami. Pantai ini terkenal memiliki tempat selancar, akan menambah keelokan panorama pantai tersebut.

(Sumber : Pacitan Tourism)