Desa Wosilimo

Masjid Raya Baiturrahman

Mata pencaharian pokok suku Wosilimo adalah bercocok tanam dan beternak babi. Umbi manis merupakan jenis tanaman yang diutamakan untuk dibudidayakan, artinya mata pencaharian umumnya mereka adalah berkebun. Tanaman-tanaman mereka yang lain adalah pisang, tebu, dan tembakau. Kebun-kebun milik mereka ada tiga jenis, yaitu: 1. Kebun-kebun di daerah rendah dan datar yang diusahakan secara menetap. 2. Kebun-kebun di lereng gunung. 3. Kebun-kebun yang berada di antara dua uma. Kebun-kebun tersebut biasanya dikuasai oleh sekelompok atau beberapa kelompok kerabat. Batas-batas hak ulayat dari tiap-tiap kerabat ini adalah sungai, gunung, atau jurang. Dalam mengerjakan kebun, masyarakat desa Wosolimo masih menggunakan peralatan sederhana seperti tongkat kayu berbentuk linggis dan kapak batu. Selain berkebun, mata pencaharian desa Woslimo adalah beternak babi. Bagian dalam kandang ini terdiri dari petak-petak yang memiliki ketinggian sekitar 1,25 m dan ditutupi bilah-bilah papan. Bagian atas kandang berfungsi sebagai tempat penyimpanan kayu bakar dan alat-alat berkebun.

(Sumber : Wamena Tourism)

Advertisements

Desa Dugum

Masjid Raya Baiturrahman

Kesenian masyarakat desa Dugum dapat dilihat dari cara membangun tempat kediaman, seperti : Honai, Ebeai, dan Wamai. Selain membangun tempat tinggal, masyarakat desa Dugum mempunyai seni kerajinan khas, anyaman kantong jaring penutup kepala dan pegikat kapak. Orang Desa juga memiliki berbagai peralatan yang terbuat dari bata, peralatan tersebut antara lain : Moliage, Valuk, Sege, Wim, Kurok, dan Panah sege.

(Sumber : Wamena Tourism)

Desa Suroba

Masjid Raya Baiturrahman

Anda akan disambut oleh sebuah gapura khas Wamena yang melengkung dan beratap jerami. Setiap desa memang memiliki bentuk gapura yang identik. Ini adalah ciri khas. Untuk masuk ke pemukiman, anda harus sedikit trekking selama setengah jam. Jalur setapak tanah menjadi licin akibat hujan. Terus berjalan hingga sebuah bukit muncul di depan anda. Barisan pohon pinus yang segar dan sungai yang jernih adalah tempat pelesir yang tepat. Sampai di desa ini anda akan disambut oleh Meagun Kosai, salah satu tetua kampung Suroba. Dia mengenakan topi bulu ayam, bertelanjang diri dan hanya mengenakan koteka. Koteka terbuat dari buah labu yang dikeringkan.

(Sumber : Wamena Tourism)

Desa Aikima

Masjid Raya Baiturrahman

Desa Aikima Distrik Kurulu. Tempatnya tidak jauh dari kota Wamena, sekitar 5 Km dan bisa ditempuh baik dengan mobil maupun kenderaan lainnya. Jalan menuju Kurulu juga sudah merupakan jalan beraspal yang lumayan bagus. Kalau kita tempuh dengan bersepeda kesana bisa ditempuh sekitar 1,5 jam. Sepanjang perjalanan mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan alam yang luar biasa, hamparan perkebunan hipere (ubi jalar), kebun talas dan sesekali kita akan menemui sawah. Sebelum sampai di kurulu sekitar 1 Km dari Kota Wamena di sebelah kiri jalan kita juga akan bisa menikmati bukit pasir putih yang indah. Disini terkenal dengan Mumi Aikima berurumur sekitar 300 tahun lebih, Mumi ini merupakan seorang kepala suku besar yang menguasai Lembah Baliem yang bernama Werupak Elosak, ia dulunya ketika berkuasa sangat disegani masyarakat yang dipimpinnya,karena sikapnya yang sangat baik dan bijaksana. Sehingga untuk menghormatinya keluarganya sepakat untuk mengawetkannya.

(Sumber : Wamena Tourism)

Suku Dani

Masjid Raya Baiturrahman

Adalah salah satu dari sekian banyak suku bangsa yang terdapat atau bermukim atau mendiami wilayah Pegunungan Tengah, Papua. Suku Dani adalah sebuah suku yang mendiami satu wilayah di Lembah Baliem yang dikenal sejak ratusan tahun lalu sebagai petani yang terampil dan telah menggunakan alat/perkakas yang pada awal mula ditemukan diketahui telah mengenal teknologi penggunaan kapak batu, pisau yang dibuat dari tulang binatang, bambu dan juga tombak yang dibuat menggunakan kayu galian yang terkenal sangat kuat dan berat. Suku Dani masih banyak mengenakan ”koteka” (penutup kemaluan pria) yang terbuat dari kunden/labu kuning dan para wanita menggunakan pakaian wah berasal dari rumput/serat dan tinggal di “honai-honai” (gubuk yang beratapkan jerami/ilalang). Upacara-upacara besar dan keagamaan, perang suku masih dilaksanakan (walaupun tidak sebesar sebelumnya).

(Sumber : Wikipedia)

Pulau Warna Berwarna

Masjid Raya Baiturrahman

Namanya terdengar asing. memang masih jarang yang tahu tempat maha indah ini. Tapi dijamin sebentar lagi bakal sengetop Wayag karena keindahannya melebehi pulau Wayag. Sekeliling laguna berair hijau bening ini adalah rangkaian bukit karst yang bentuknya unik, mirip kumpulan candi dari zaman prasejarah. Kita seakan berada di dimensi lain. Lagunanya yang tenang cocok untuk direnangi dan menjadi lokasi menyelam maka akan terlihat aneka biota laut yang beraneka ragam.

(Sumber : Sorong Tourism)

Wagmap Point

Masjid Raya Baiturrahman

Misool termasuk daerah segitiga karang dunia, dimana taman bawah lautnya menyimpan sekitar 75% jenis ikan hias dan karang yang ada di dunia. Daerah ini juga memiliki laut lepas yang sangat luas sekali sehingga menjadi jalur lintas hewan-hewan besar seperti ikan paus dan gurita. Wagmap point memiliki banyak beraneka ragam. Ekosistem terumbu karang di pulau ini terajut pada paparan dangkal di hampir semua pulau kecil. Tipe terumbu yang terdapat di Kepulauan ini umumnya berupa karang tepi (fringing reef), dengan kemiringan yang cukup curam. Selain itu terdapat juga tipe terumbu cincin (atol) dan terumbu penghalang (barrier reef).

(Sumber : Sorong Tourism)